Cinta? Apa
yang ada dibenakmu ketika kata itu disebutkan? Sebagian remaja menafsirkan
cinta dengan “Pacaran”, berdua-duaan, bermesraan, yang tidakpasti sejarahnya
mengapa bisa timbul hubungan pacaran di dunia ini. Padahal cinta itu tidak hanya
diungkapkan dan ditujukan oleh lawan jenis yang dikagumi saja, banyak
objek-objek untuk tempat kita mengungkapkan rasa yang suci itu. Bisa kepada
orang tua, keluarga, sahabat sejenis, teman dan tentunya kepada Sang Pencipta
yang paling utama.
Sampai detik
ini pun definisi cinta adalah sesuatu yang belum saya mengerti bagaimana bentuk
dan wujudnya, tetapi bisa dirasakan. Bisa diibaratkan cinta itu seperti udara
yang dapat kita hirup tanpa dapat kita lihat oleh mata bagaimana bentuk dan
wujudnya.
Cinta adalah
Anugerah dan Karunia dari Allah, Rabb Alam semesta yang menciptakan langit dan
bumi beserta isinya dengan penuh cinta dari Nya. Diciptakanlah kita semua
manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Diselipkan oleh Nya rasa
cinta yang suci itu di dalam masing masing diri kita . tetapi masalahnya,
karena ketidaktahuan kita dalam mengolah rasa cinta itu, membuatnya menjadi
ternodai oleh perbuatan yang murka. Perbuatan murka itu ilah “Zinah” yang sudah
tidak asing lagi di tengah-tengah kita. Pergaulan antara lawan jenis yang sudah
tak kenal lagi batasan-batasan yang mana yang baik dan yang mana yang buruk.
Tentu dalam hal ini yang menjadi sangat diragukan adalah pihak wanita yang
seolah sudah dipandang tak berharga lagi. Namun, dari sebagian besar remaja
yang mengolah cinta dengan hal-hal yang negatif, ternyata masih terdapat
sebagian kecil yang mewarnai, mengisi dan mengolah cinta itu secara positif dan
menjaga makna cinta agar tetap suci.
Bagaimana
sesungguhnya mengolah rasa cinta yang seringkali muncul?
Islam tidak
pernah melarang seseorang jatuh cinta ataupun mengagumi lawan jenisnya. Hanya
saja, seseorang seseorang yang ketika kagum ataupun jatuh cinta secara
diam-diam kepaa lawan jenisnya disarankan agar tetap menahan dan menjaga
perasaannya, memproteksi kadar imannya, dan selalu menanamkan komitmen bahwa
cinta kita yang paling utama adalah cinta kita kepada Allah, rasa kagum dan cinta
kita kepada seseorang itu tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah, karena
kita perlu ketahui , cinta kepada manusia adalah hal yang semu.
Rasa cinta
kepada seseorang itu cukup dengan hanya dipendam di dalam hati, karena jika
kita ungkapkan, maka akan membuka celah-celah kesempatan terjadinya hubungan
pacaran. Bukankah pacaran adalah sesuatu yang mendekatkan kita kepada zinah?
Bukankah Allah telah memperingati kita untuk tidak mendekati zinah?
Memang
sebagian besar orang berpendapat bahwa tak semua orang yang menjalani hubungan
pacaran akan melakukan zinah. Namun, kita harus tahu bahwa setiap perbuatan
zinah sebagian besar berawal dari hubungan pacaran bukan?
Apa yang
harus kita lakukan di dalam mengolah rasa cinta itu?
Kuatkanlah
perasaanmu untuk menahan rasa semu yang kau miliki, sebaiknya lakukan
kegiatan-kegiatan yang bersifat positif yang akan menambah manfaat dalam
hidupmu. Sambil berdo’a kepada Allah apakah seseorang yang kita kagumi tersebut
adalah orang yang terbaik untuk kita atau masih ada yang lebih baik. Lalu,
sertakan usaha kita untuk selalu memperbaiki diri, karena perlu diingat,
“Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, begitupun sebaliknya.” Dengan
begitu rasa cinta yang telah di Anugerahkan oleh yang Maha Kuasa tetap terjaga
kesuciannya.